Sabtu, 06 Maret 2010

LATAR BELAKANG KASUS 28 MINGGU

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita usia muda pada masa puncak produktivitasnya. Tahun 1996. WHO memperkirakan lebih dari 585.000 pertahun meninggal saat hamil dan bersalin.
Di Indonesia pada saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih cukup tinggi. Salah satu indikator Indonesia sehat 2010 adalah status kesehatan meliputi angka kematian Ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Sesuai SDKI (Survey Demografi Kesehatan Indonesia) tahun 2007 AKI adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia seperti halnya di negara lain adalah perdarahan, infeksi dan eklamspai. Penyebab tidak langsung kematian ibu antara lain adalah anemia (51%), KEK (kurang energi kronis) 30% dan 4 terlalu (terlalu muda usia kawin, terlalu tua melahirkan, terlalu dekat jarak Melahirkan, terlalu sering melahirkan), (Saefudin AB dkk - 2002).
Oleh karena itu, kebijakan Departemen Kesehatan adalah mendekatkan pelayanan obstetri dan neonatal (kebidanan dan bayi baru lahir), sedekat mungkin pada setiap ibu hamil, sesuai dengan pendekatan Making Pragnancy Safer( MPS). Bahwa semua kehamilan itu beresiko dan setiap ibu hamil agar mempunyai akses ke pertolongan persalinan yang aman dan pelayanan obseteri, (Depkes RI - 2001).
Pada tanggal 12 Oktober 2000 Presiden RI mencanangkan making Pragnancy Safer (MPS) yang mempunyai 3 pesan kunci :
1. Semua persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih
2. Semua persalinan dengan komplikasi harus dapat di layani oleh tenaga medis/kesehatan yang berkompeten (terlatih) melalui pelayanan di fasilitas yang memadai atau rujukan kepada fasilitas yang dapat menimbulkan komplikasi tersebut.
3. Setiap kehamilan hendaknya kehamilan yang di inginkan (pregnancy wanted).
Angka kematian bayi yang cukup tinggi menempatkan Indonesia di kawasan Asia Tenggara rangking 7 dari 10 negara di bawah Vietnam dalam urutan angka kematian Unicef (2000).
Bayi baru lahir (BBL) pada hari-hari pertama kehidupannya mengalami berbagai perubahan yang sangat kompleks. Pada sebagian bayi, perubahan tersebut dapat berjalan dengan lancar, namun sebagian yang lain kadang-kadang mengalami banyak hambatan yang mengakibatkan bermacam-macam kelainan, sehingga menimbulkan kegawatan pada bayi dan berakhir pada kematian. (Idham Amir dan Rinawati R. - 2003)
Pada SDKI 2007 juga menyajikan bahwa AKB untuk Indonesia adalah 34 per 1000 kelahiran hidup dan untuk Propinsi NTB adalah 72 per 1000 kelahiran hidup lebih rendah dari hasil SDKI 2002 yaitu 74 per 1000 kelahiran hidup. Disebutkan juga Angka Kematian Neonatal untuk Indonesia adalah 20 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Neonatal di NTB adalah 34 per 1000 Kelahiran Hidup. dimana Kematian Neonatal berhubungan dengan kondisi ibu saat hamil dan melahirkan.
Adapun penyebab kematian bayi adalah :
1. Asfeksia, BBLR, Infeksi 58.4 %
2. Diare 15 %
3. Pnemaounia 12.7 %
4. Kelainan kongenital 5.7 %
5. Meningitis 4.5 %
6. Tidak Diketahui penyebabnya 3.7 %
(Riskesdas 2007)

Oleh karena itu penanganan dini adanya kegawatan pada BBL sangat dibutuhkan antisipasi dan biasanya dapat dilakukan sebelum bayi lahir.
Dari uraian tersebut di atas, maka sangat di butuhkan keseriusan Program Kesehatan dan Fokus kegiatan dalam Upaya Penurunan Angka kematian Ibu (AKI) oleh Depkes adalah :
1. P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) dengan Stiker di Seluruh Puskesmas
2. Kemitraan Bidan dengan Dukun
3. PONED/PONEK (Pregnency Obstetri Neonatus Emergency Dasar)/( Pregnency Obstetri Neonatus Emergency Konprensif)
4. Unit Transfusi Darah di Rumah Sakit Kabupaten
5. Pelayanan Keluarga Berencana yang Berkualitas
6. Pemenuhan SDM Kesehatan
(Dr. Srihermiyanti,Msc, 2009 dalam Seminar Pelaksanaan Program MPS di Indonesia, Jogjakarta)

Oleh karena itu untuk mendukung fokus kegiatan Depkes tersebut Akademi Kebidanan Bakti Kencana Mataram menyelenggarakan Program Study Diploma III Kebidanan dalam rangka mempercepat pemenuhan tenaga bidan dengan pengetahuan dan keterampilan yang terkompentensi. Maka diharapkan setelah menyelesaikan studynya para bidan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang baik, terstandar sehingga pada akhirnya dapat membantu menurunkan AKI dan AKB.
Sebagai aplikasi dari teori dan keterampilan sesuai dengan kompetensi yang di dapat, maka para mahasiswa Akademi Kebidanan Bhakti Kencana Mataram diharuskan melakukan study kasus secara langsung pada pasien atau klien dengan menerapkan asuhan kebidanan mulai dari masa kehamilan > 28 minggu, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir dan KB sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan secara langsung penanganan pada pasien/klien dengan menerapkan asuhan kebidanan dan Manajemen kebidanan pada kasus normal / bermasalah mulai dari ANC (Umur Kehamilan / UK > 28 minggu), INC, PNC, BBL, KB
2. Tujuan Khusus
a. Dapat memilih kasus individu untuk penerapan proses manajemen kebidanan mulai dari ANC (UK > 28 minggu) INC, PNC, BBL dan KB
b. Mampu menerapkan proses berpikir dan bertindak sesuai dengan langkah-langkah manajemen kebidanan untuk membantu dalam pengambilan keputusan klinis pada klien dari saat kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, ibu post partum dan KB
c. Mampu mendokumentasikan seluruh temuan-temuan dan seluruh hasil dalam catatan Varney dan SOAP.
d. Mampu membuat laporan kasus dengan baik
e. Mampu melakukan evaluasi keberhasilan tindakan yang diberikan

C. MANFAAT PENULISAN
1. Bagi Institusi
1.1 Membantu upaya menurunkan angka mortalitas dan mordibias terhadap ibu dan bayi
2. Bagi Instansi
2.1 Meningkatkan cakupan K4, KN, ASI Ekslusif dan KB
2.2 Memudahkan pemantauan wilayah setempat dan pencatatan pelaporan
3. Bagi Penulis
3.1 Merupakan implementasi manajemen kebidanan, memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir / neonatal dan keluarga berencana sehingga nantinya pada saat bekerja di lapangan dapat dilakukan secara sistematis, yang pada akhirnya meningkatkan mutu pelayanan dan memberikan dampak menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi / balita.
3.2 Dapat mengoptimalkan evaluasi serta kualitas basis kompetensi dalam mengaplikasikan teori dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan standar dan kode etik yang berlaku.
3.3 Memenuhi salah satu syarat untuk menempuh ujian akhir pada program diploma III Akademi Kebidanan Bhakti Kencana.
4. Bagi masyarakat
4.1 Dapat menambah pengetahuan klien dalam perawatan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, masa nifas dan KB
4.2 Klien dapat mengenali tanda-tanda bahaya dan resiko terhadap kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan KB
4.3 Klien dapat menolong dirinya sendiri terhadap perubahan fisiologis dalam masa kehamilan, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir.
4.4 Klien mendapat kontak langsung dengan tenaga kesehatan sehingga dengan paparan tersebut klien dapat merubah prilakunya untuk memanfaatkan sarana kesehatan ataupun tenaga kesehatan dengan kesadarannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar